Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Showing posts with label Mitos dan Legenda. Show all posts
Showing posts with label Mitos dan Legenda. Show all posts
Alexa Rank, Mitologi ‘Dunia Maya’ (1)

alexa rank traffic blogKonon, dalam dunia per-web-an alias ‘dunia maya’ hiduplah raksasa bernama Alexa, yang merupakan satu di antara dua raksasa penting (raksasa yang lain kita ceritakan lain kali pula). Disebut demikian, karena rangking tertentu yang diberikan raksasa Alexa terhadap sebuah situs (termasuk weblog alias blog) akan memberikan pengaruh tertentu terhadap situs bersangkutan. Alexa Rank, begitu nama yang diberikan oleh sang raksasa Alexa sebagai ranking terhadap jumlah kunjungan ke sebuah web atau blog (situs) tertentu.

Apa pengaruhnya?
Pengaruh tersebut, akan sangat terasa, terutama, jika sang pemilik situs, web-master ataupun blogger berniat menggunakan blog atau webnya sebagai kapal dagang. Soalnya, banyak ‘simpul iklan’ yang menggunakan ranking Alexa atau Alexa Rank tersebut sebagai patokan untuk menolak ataupun menerima pendaftaran sebuah situs. Dengan cara itu, sekaligus rangking yang di berikan oleh sang Alexa menjadi harga iklan yang ditayangkan oleh sebuah blog. Semakin baik Alexa Rank-nya, semakin tinggi harga iklannya.

Lalu bagaimana jika sang Blogger hanya mengunakan blognya sebagai kapal perang ? Jika ia tidak akan mendaftarkan blognya ke ‘simpul iklan’, karena memang tidak berniat memasang iklan ? Alexa Rank, tetap saja dapat menjadi salah satu indikator ‘kemenangan’ dalam perang itu. Semakin baik Alexa Rank, berarti semakin banyak ‘sekutu’ yang telah datang berkunjung dan menjalin ‘persekutuan’. Jadi, untuk blog yang berfungsi sebagai kapal perang, Alexa Rank menjadi bukti bahwa ‘senjata’-nya telah diuji cobakan. (meski tentu saja bukan satu-satunya bukti).

Apakah gerakan sosok yang bernama Alexa ini ? Konon, ia dilahirkan dalam keluarga Amazon.com, salah satu perusahaan terkaya di dunia maya (di samping google dan yahoo, tentu saja). Alexa dilahirkan oleh Brewster Kahle dan Bruce Gilliat, pada tahun 1996. Nama Alexa, konon pula, diambil dari nama perpustakaan kuno "Alexandria". Secara umum, Alexa dan Alexa Rank (senjatanya) digambarkan sebagai:

sebuah sistem perangkingan yang didasarkan pada tingkat kunjungan terhadap sebuah situs. Penghitungannya dilakukan berdasarkan nilai gabungan antara jumlah pengunjung dan jumlah halaman yang dilihat oleh pengunjung pada sebuah situs setiap harinya.


Gambaran wah, ini lah yang menjadi cerita Alexa, yang mendorong banyak blogger dan web-master untuk mempelajarinya dengan seksama. Dan hampir semua cerita tentang raksasa Alexa ini, diakhiri dengan saran untuk memperoleh ‘perhatian’ lebih banyak darinya. Tujuannya, tentu saja memperoleh Alexa Rank yang lebih baik (dengan angka lebih kecil). Rata-rata, saran itu berbunyi:

• Unggahlah Alexa toolbar dan install-kan pada software browsing yang digunakan (disarankan pakai Firefox, mungkin karena sudah bekerja sama, hehehe)
• Tempatkan widget Alexa Rank di halaman blog kita masing-masing (kode HTML nya bisa di ambil di sini)
• Membuat tulisan tentang Alexa Rank dan menggunakan kata Alexa sebanyak-banyaknya (seperti yang sedang dicoba blog ini, hahaha).
• Berpartisipasi dalam berbagai forum blogger atau webmaster (agar kita bisa meninggalkan alamat url kita, sehingga mengundang kunjungan ke blog kita masing-masing).
• Mencoba menulis tentang tema-tema yang disukai para webmaster (misalnya tentang cara meningkatkan Alexa Rank itu sendiri, atau coba aja lihat di forum-forum itu, lalu gunakan kata kunci yang mirip untuk judul postingan).
• Membeli iklan link (hmm, kayaknya yang ini kurang ‘menyenangkan, karena gak gratis)
• Mempublikasikan artikel di berbagai jejaring sosial (tapi kasih ringkasannya saja, jangan semua, agar yang baca datang ke blog kita untuk melanjutkan bacaannya).
• Mengundang teman blogger lebih banyak untuk meng-install Alexa Toolbar, dan menggunakannya untuk mengunjungi blog kita.


Bisa dipastikan, bahwa sebagian besar cerita tentang sang raksasa Alexa, akan bernada seperti itu. Dalam dunia per-blogger-an, bisa dikatakan pula bahwa hampir semua blogger terkenal menulis Alexa Rank. Hal ini, semakin menguatkan ‘kesan’ tentang pentingnya raksasa Alexa di ‘dunia maya’. Ditambah dengan prasyarat beberapa ‘simpul-iklan’, yang meletakkan Alexa sebagai indikatornya, cerita-cerita itu kemudian merajut sebuah jejaring ‘kesan’ yang menjelma menjadi mitologi, tentang raksasa bernama Alexa.

Saking berpengaruhnya mitos tentang raksasa Alexa dan senjata Alexa Rank-nya ini, ia menutupi beberapa fakta kelemahannya sendiri. Alexa Rank, sebenarnya hanya menghitung kunjungan dari pengunjung yang menginstal Alexa Toolbar pada browsing software-nya. Pengunjung yang tidak menggunakannya tidak akan dihitung, dan dianggap tidak pernah mengunjungi (hahahaha, dianggap hilang aja).

Berapa besar pengaruh mitos ini terhadap para blogger?
Silahkan saja mencoba...
Read more
Legenda "Batu Batikam"

karikatur legenda demokrasi batu batikamSepertinya, sementara kita tinggalkan dulu cerita (daftar) artis yang jadi politikus. Cerita atau legenda yang satu ini, barangkali berguna diceritakan sekarang, ketika kampanye dimulai, dan hawa tak nyaman mulai terasa. Akh, maafkan saya, tidak bermaksud menebar ketakutan. Hanya semacam mengingatkan, tentang masa 'antah-berantah' yang mungkin mengandung pelajaran...
.........................

Syahdan, Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan berdebat hebat. Keduanya adalah orang bersaudara, berlainan bapak. Datuak Parpatiah nan Sabatang, adalah seorang yang dilahirkan dari seorang bapak aristokrat (cerdik-pandai). Sementara Datuak Katumangguangan, dilahirkan dari seorang ayah yang otokrat (raja-berpunya). Namun pada keduanya, juga mengalir darah dari ibu yang sama, seorang perempuan biasa, seperti apa adanya.

Darah yang mengalir di tubuh keduanya, ternyata berpengaruh pada pandangan hidup yang dijalani. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” (demokratik). Sedang Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial). Perbedaan yang kemudian meruncing menjadi perdebatan, bahkan menjurus menjadi pertikaian...

Sama-sama menghindari untuk melukai saudaranya, kedua datuak kemudian menikamkan pedang dan kerisnya pada batu. Kedua batu itu sekarang, dikenal dengan nama “Batu Batikam” (Batu yang ditikam). Yang satu berdiri tegak di tepi jalan Limo Kaum, di Batu Sangkar Sumatera Barat. Yang lain, ditelan oleh waktu, tinggal cerita, namun tetap dikenang sebagai pertanda. Betapa nenek moyang, yang memiliki kesaktian untuk menghancurkan, bahkan tidak menyukai kekerasan.

Datuak Parpatiah lalu pergi merantau. Memperbandingkan keyakinannya dengan dunia luar. Datuak Katumangguangan sebaliknya, tinggal menjaga kampung halaman, dan membenamkan dirinya dalam kumpulan kebijaksanaan yang ditinggalkan leluhur. Dua cara berbeda, dengan satu tujuan, mencari kebijaksanaan. Dua perjuangan, dengan satu cita-cita, mengatur rakyat agar sejahtera.

Masa berganti, musim bertukar, keduanya bertemu. Dengan kematangan yang semakin baik, sudah tentu. Juga dengan kepala yang semakin banyak tahu. Lalu keduanya duduk berbagi ilmu. Melerai perseteruan yang pernah terjadi bertahun-tahun berlalu. Dan akhirnya bersepakat untuk saling bahu-membahu. Menjadikan rakyat semakin pintar dan maju. Melupakan egoisme masing-masing, mendahulukan kepentingan orang banyak, karena itu lebih penting.

Demikianlah, legenda itu hidup berabad-abad. Disampaikan ke anak-cucu sebagai pelajaran tentang martabat. Kedua sistem tetap hidup hingga kini, berdampingan dan bersahabat. Saling melengkapi dalam jalinan yang erat. Menjadi dua partai yang semacam Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. Menjadi sejalur rel, dua garis yang berjalan bersama, tak renggang, meski juga tak akan pernah merapat.

.....................

Wallahualam Bissawab
Kebijaksanaan selalu terendap
Dalam cerita-cerita berkarat
Hanya bagi mereka yang berfikir ketat

Read more