Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Showing posts with label Politik-Politik (an). Show all posts
Showing posts with label Politik-Politik (an). Show all posts
Membaca Sandiwara Politik dan Ideologi






Sandiwara Politik, barangkali adalah salah satu istilah yang paling sering digunakan untuk menunjukkan betapa politik, adalah dunia yang paling 'berpura-pura' atau bahkan tidak konsisten. Istilah sandiwara politik pula yang turut membangun 'citra' konotatif terhadap kata sandiwara. Kurang-lebih, jika seseorang berkata pada sahabat: "Akh, kamu bersandiwara...", maka yang ia maksudkan bukanlah bahwa sahabat adalah seorang pemain sandiwara, tapi justru ia maksudkan bahwa sahabat sedang berpura-pura. Bukankah demikian ?

Meski tidak suka, saya sendiri terkadang memang tidak bisa mengelak untuk menyetujui pendapat bahwa politik adalah panggung sandiwara terbesar. Tidak saja karena jumlah pemainnya yang banyak, tapi juga karena penontonnya tidak sedikit. Untuk politik Indonesia, misalnya, baru-baru ini telah dimainkan satu pertunjukan sandiwara besar bernama Pemilu 2009. Tidak tanggung-tanggung, pentas sandiwara itu, melibatkan 11.301 orang pemain sandiwara (Caleg), dan 171.068.667 orang penonton aktif (Pemilih Tetap), dari total 250 juta penonton.

Lalu apakah yang menjadi alur dalam sandiwara politik yang satu ini, dan akhirnya menentukan karakter-karakter dalam sandiwara besar politik tersebut? Seharusnya: Ideologi. Seperti sahabat semua tahu, ideologi adalah cita-cita yang sistematis. Ideologi adalah platform perjuangan, bahkan ideologi adalah tujuan bernegara. Oleh sebab itu pulalah, seringkali agama yang dianut seseorang, langsung menjadi ideologi nya. Sebab, cita-cita kehidupannya, yang dituntun oleh ajaran agama yang dianutnya, kemudian diterapkan pula pada setiap ranah kehidupannya, tak terkecuali politik.

Tapi ideologi, terkadang juga ditentukan oleh cara bermata pencarian. Jika begitu, rakyat Indonesia, mungin seharusnya berideologi Pertanian dan Kelautan. Tapi anehnya, Ideologi Pabrik dan Industri, terdengar lebih santer. Kelautan apalagi, adalah hal yang paling jarang kita dengar dibicarakan dengan serius. Dan jangan tanya, apakah ada partai politik Indonesia yang menjadikan sektor kelautan sebagai komoditi politiknya? Jawabannya, ringkas. Tak Ada. Sebab hampir semua partai politik menganut Ideologi yang “apapun tersedia” alias warung serba ada. Alasannya, ini negara majemuk dan besar, terlalu banyak lini yang harus diperhatikan !

Jika begitu, apakah ideologi partai politik Indonesia, yang jumlahnya mencapai 44 buah pada pemilu 2009 itu ? Dialog yang paling sering kita dengar, adalah: Ideologi Pancasila. Tapi bagaimana Pancasila diterapkan dalam politik ? Bukankah kemudian Pancasila lebih terlihat sebagai retorika belaka ? Yang memperlihatkan kemajemukkan pilihan. Mana yang lebih utama dari ke lima silanya itu? Yang mana yang prioritas ? Lagi-lagi, jawaban klasik akan kita dengar, bahwa: Pancasila adalah sebuah keutuhan, dan ke lima silanya adalah satu. Jadi tidak ada yang prioritas.

Lalu pertanyaan baru, akan muncul. Jika semua partai berideologi Pancasila. Kenapa mereka tidak jadi partai tunggal saja ? Aneh, jika ideologi yang sama harus di ekpresikan dan diperjuangkan dengan 44 cara. Namun tidak ada yang aneh di Indonesia. Pemilu 2009, telah membuktian kehebatan bangsa Indonesia, yang bisa mengekpresikan satu Ideologi, dengan 44 cara. Lagi pula, sebuah pesta memang harus rame dan meriah. Dan akan terlihat janggal jika bangsa yang besar dan kaya ini, tidak menghabiskan 50 triliun rupiah, untuk sebuah pesta. Untuk sebuah pentas sandiwara.
Tepuk tangan yang meriah. Hip-hip Hura...!
Read more
Berperan dalam Sandiwara berjudul "Pemilu"

Sebentar lagi, Indonesia lima tahun ke depan akan ditentukan, lewat sandiwara bernama "pemilu". Terserahlah, meski sebagian orang berfikir acara itu gak signifikan. Gak merubah apapun selain, daftar nama tertentu. Terus terang saya pribadi termasuk yang berfikir seperti itu. Hahaha.

Tapi bagaimanapun, pemilu adalah 'simbol' dari penentuan Indonesia lima tahun ke depan itu. Mungkin ya, tinggal sebatas simbol saja...Tapi masyarakat kita masih hidup dengan simbol-simbol yang kental. Tak soal, karena itu mungkin budaya kita,apalagi di pentas sandiwara politik, simbol-simbol seringkali lebih produktif, hehehe.

Bagi yang sudah memutuskan pilihannya, saya ucapkan Selamat. Postingan ini mungkin lebih ditujukan buat para sahabat yang berada pada posisi berbeda. Tentu, pilihan untuk tidak memilih, adalah sebuah pilihan juga. Hanya saja, mungkin bisa dipertimbangkan untuk tetap "berperan" pada sandiwara berjudul pemilu ini. Jika pun kita tidak terlalu menyukai peranan ini, untuk tetap menemukan ke 'ada' an kita (maksudnya bahwa kita "ada') di antara masyarakat, kenapa tidak untuk sekedar 'berperan".

Tokh, manusia tidak pernah lepas dari dua dunia itu, "pentas" sandiwara, di mana ia hidup bermasyarakat, dan "belakang-pentas" sandiwara, di mana ia hidup sebagai dirinya sendiri. Di "pentas", setiap manusia akan berperan, ia bertindak berdasarkan alur, tema, dan latar yang disediakan kehidupan bermasyarakatnya, berupa norma dan nilai mungkin. Tapi di "belakang-pentas", ia boleh hidup dengan caranya sendiri. Satu-satunya penonton, mungkin istri atau suami dan jika harus dihitung, dua dengan Tuhan.

Nah, pemilu mungkin bisa menghadirkan keduanya di satu waktu. Di hadapan semua mata yang hadir di TPU, kita adalah 'pemeran' sandiwara di atas pentas, tapi dalam "bilik-suara", kita bisa menjadi diri sendiri, atau berperan pada wilayah "belakang-pentas".Yah, meski hanya untuk sekedar datang, menghitamkan satu jari (hahaha, ini lebih lucu lagi), masuk ke sebuah kamar bernama "bilik suara", dan memberikan suara yang "tidak perlu". Mungkin dengan cara ini, "ketidak-percayaan" itu lebih aktual dan "ekpresif".

Jika menggunakan hak pilih adalah hak, tidak menggunakannya adalah hak juga tentunya. Dan menggunakannya dengan cara kita, tentu juga "hak".Begitupun, untuk tetap di rumah saja, dan mengekspresikan "ketidak-percayaan" itu secara ektrim adalah hak juga. Postingan ini, hanya sebuah tawaran...

sumber gambar: www.clipartguide.com
Read more
Top-20 Dunia: Artis yang Jadi Politisi (1)

top artis dunia jadi politisi
Beberapa hari yang lalu, saya membuat memposting cerita tentang;"Artis (Seniman) Jadi Politisi", sesuatu yang mungkin saat ini menjadi berita yang ramai diulas, tak terkecuali oleh para blogger. Gak percaya ? Coba aja masukin frasa itu di kotak pencarian om Google, yakin dech sebagian besar hasil pencariannya adalah tulisan yang diposting oleh teman-teman blogger. Hehehe.

Nah, dari tema itu, saya penasaran juga mau nyari tau siapa sih, artis dunia yang juga jadi politisi. Maksudnya mau melihat dan membandingkan aja...Dari rasa penasaran itu, saya akhirnya memperoleh 20 nama paling 'santer' ditulis sebagai politisi yang berangkat dari ketenarannya sebagai artis (Modal "suara"-nya, maksudnya, hehehe).

Sahabat semua mau tahu juga? Silahkan aja dilihat dan dibandingkan juga dengan para artis kita yang (mencoba) jadi politisi. Catatannya, urutan nama berikut dibuat berdasarkan abjad, jadi bukan rangking. Ini dia:

1.Alessandra Mussolini
Lahir: 30 Desember 1962
Karir : Aktris, model
Karir Politik : Angota Parlemen Italia
Catatan Penting : Cucu dari Benito Mussolini (Dikator Fasis Italia), juga adalah anggota Parlemen Eropa (2003)

2.Arnold Schwarzenegger
Lahir: 30 Juli 1947
Karir : Aktor, binaragawan
Karir Politik : Gubernur California AS)
Catatan Penting : Awalnya berkewarganegaraan Austria, lalu Inggris, dan akhirnya Amerika Serikat; paling identik dengan film “Terminator”.


3.Ben Jones
Lahir: 30 Agustus 1941
Karir : Aktor, penulis
Karir Politik : Anggota Konggres AS
Catatan Penting : Pernah mempertanyakan kebijakan-kebijakan presiden Bill Clinton; Paling dikenal karena perannya sebagai Cooter Davenport dalam film TV “The Dukes of Hazzard”.

4.Clint Eastwood
Lahir: 31 Mei 1930
Karir : Aktor, sutradara
Karir Politik : walikota khusus Carmel California AS
Catatan Penting : Selama perang korea (1950) pernah terdaftar sebagai anggota Tentara AS (US Army); Paling dikenal karena perannya sebagai Inspektur 'Dirty' Harry Callahan dalam serial "Dirty Harry".

5.Fred Grandy
Lahir: 29 Juni 1948
Karir : Aktor
Karir Politik : Anggota Konggres AS
Catatan Penting : Memenangkan "Watchdog of the Treasury" awards, sebuah penghargaan dua tahunan untuk anggota Partai Republik AS; Paling dikenal karena perannya dalam Komedi TV “The Love Boat”.

6.Fred Thompson
Lahir: 19 Agustus 1942
Karir : Aktor, pengacara
Karir Politik : Anggota Senat AS
Catatan Penting : Tahun 1977 menjadi pembela Marie Ragghianti, melawan Gubernur Ray Blanton, dan memenangkan kasus tersebut; Bermain sebagai Arthur Branch dalam serial TV terkenal “Law & Order”


7.George Murphy
Lahir: 4 July 1902 (Meninggal karena leukemia, 3 Mei 1992)
Karir : Aktor, penari
Karir Politik : Anggota Senat AS
Catatan Penting : Pernah jadi penari night club; Paling diingat dengan perannya sebagai Michael Denis dalam film “London by Night” (1937)

8.Glenda Jackson
Lahir: 9 May 1936
Karir : Aktris
Karir Politik : Anggota Parlemen Inggris
Catatan Penting : Memenangkan penghargaan Aktris Terbaik Academi Award (1969, 1973, 1975);Pernah punya masalah dengan PM Inggris Tony Blair (Oktober 2005).


9.Helen Gahagan Douglas
Lahir: 25 November 1900 (Meninggal karena kangker payudara: 28 Juni 1980)
Karir : Aktris
Karir Politik : Anggota Kongres AS
Catatan Penting : Bermain dalam film “She” (1935), yang merupakan film satu-satunya yang pernah ia bintangi; Adalah Perempuan Pertama yang dipilih pada Pemilu Konggres AS dari partai Demokrat .

10.Ilona Staller
Lahir: 26 November 1951
Karir : Aktris, Musisi, Model
Karir Politik : Anggota Parlemen Italia
Catatan Penting : Adalah orang Hunggaria yang menjadi anggota Parlemen Italia; Lebih dikenal sebagai Aktris Film Blue, salah satunya "La Liceale" (1975).


Read more
Artis (Seniman) Jadi Politisi

artis di dunia politik
Akhir-akhir ini, orang lagi tertarik memperhatikan artis yang masuk kancah (kuali kaleee, hehehe) politik. Dan sang artis yang memang suka ‘diperhatikan’, karena itu memang sumber penghidupannya, kayaknya juga sedang merayakan kesempatan itu. Semakin banyak saja yang berminat mencoba peruntungannya di wilayah ini. Untuk Pemilu 2009, tidak kurang dari 49 nama artis telah tercatat sebagai ‘caleg’ di KPU. Nah, tulisan ini maksudnya cuma mau mengawali cerita seputar itu. Bukannya sok ‘pengamat politik’ (hehehehe) tapi betapapun hal itu menarik buat diceritakan (ya, iyalah, namanya juga artis). Sekedar cerita buat inspirasilah...

Keterlibatan atau (cuma) kedekatan artis (untuk sementara kita lupakan konotasi kata ini) dengan dunia politik, sebenarnya bukanlah hal baru. Bahkan sudah dimulai sejak politik dikenal sebagai kegiatan manusia yang perlu dan penting. Yunani klasik adalah ‘sejarah’ (yang tercatat, maksudnya) yang meletakkan dasar bagi hal ini. Maklumlah, para ‘orang-pintar’ di negara-kota ini, rata-rata juga adalah penulis puisi, filsuf dan juga sekaligus negarawan.

Socrates (Yunani, 400 SM), adalah orang yang layak dicatat, sebagai wakil seniman (meski ia lebih seriang disebut sebagai filsuf) pertama yang memasuki wilayah politik. Meski tidak pernah menjadi senator, apalagi tiran, tapi ia telah membuka jalan, dengan memposisikan dirinya sebagai oposan terhadap pemerintahan “Tigapuluh-Tiran” Athena. Pikirannya ini adalah awalan bagi konsep “dimokratia”, yang memberikan kesempatan kepada semua orang (tanpa memandang garis keturunan) untuk terlibat dalam urusan-urusan negara. Pada saat yang sama, ia mengembangkan sekelompok orang-orang terpelajar (Aristokrat)

Murid sokrates, Plato, kemudian merumuskan pikiran-pikiran tersebut dalam sebuah buku yang sangat terkenal berjudul “Republik” (berarti untuk rakyat). Buku ini terkadang di sebut juga sebagai Politeia (berarti negara), dan merupakan jadi salah satu acuan penting bagi dunia politik dunia, bahkan sampai sekarang. Plato mengkategorisasikan negara berdasarkan ‘nyawa’ nya menjadi aristokrasi (pemerintahan oleh orang-orang terbaik), timokrasi (pemerintahan oleh orang-orang yang berjasa), oligarkhi (pemerintahan oleh sekelompok orang), tirani (pemerintahan oleh seorang tiran), dan demokrasi (pemerintahan oleh masyarakat).

Kita mungkin bisa menambahkan, seturut berbagai pembicaraan tentang perintahan, kategori monarkhi (pemerintahan oleh seorang raja), meritokrasi (pemerintahan oleh individu yang paling pantas untuk memimpin) dan plutokrasi (pemerintahan oleh orang-orang kaya). Lantas bagaimana dengan pemerintahan oleh artis atau bahkan selebritis? Sebab kayaknya gak ada tuh? Hehe, mungkin ada kategori baru yaitu perifimokrasi (pemerintahan oleh orang terkenal) atau bahkan polikrotokrasi (pemerintahan oleh selebriti). Tapi yang dua terakhir jangan dipake buat kuliah il-sos-pol ya. Ini hanya ‘istilah’ yang saya buat sendiri, soalnya. Hehehe.

Kembali ke Plato, dari sana sudah terlihat, bahwa keterlibatan seniman atau artis di dunia politik, erat kaitannya dengan pengakuan terhadap persamaan dan kemerdekaan manusia, yang merupakan salah satu azas demokrasi. Pandangan Sokrates, yang dituliskan dan dikembangkan Plato tersebut, pada dasarnya mendorong kebebasan individual untuk masuk dan terlibat dalam pengambilan kebijakan negara.

Revolusi Prancis (1789), oleh sebab itu, harus di catat sebagai ‘tonggak’ sejarah pula. Keterlibatan Jean Rousseau dan Voltaire, dalam kancah revolusi itu, bisa dipandang sebagai perwakilan seniman, meski keduanya juga lebih dikenal sebagai filsuf politik. Yang jelas, revolusi tersebut menandai berakhirnya monarkhi dan dimulainya ‘liberasi’, yaitu kebebasan tanpa batas bagi individu di Perancis. Bahkan, sampai hari ini pun, Prancis dikenal sebagai negara liberal yang paling konsisten.

Di Indonesia, kedekatan artis dengan kekuasaan sebaya dengan umur republik ini. Di zaman presiden Soekarno, bahkan ada istilah ‘seniman negara’. Bahkan, kedekatan sang presiden dengan beberapa artis sempat menimbulkan ‘rumor’ tertentu (wallahu alam, kalu soal ini), yang nyaris mirip ‘rumor’ JF. Kenedy dan Marlyn Monroe. Hehehe, hebat... Yang jelas, sesuai dengan semboyan “politik sebagai panglima”-nya sang presiden, para artis zaman itu, rata-rata punya afiliasi politik yang tegas (ada istilah “kanan-kiri”, wokeehh...., segala), tapi tidak jadi anggota partai atau parlemen. Rata-rata cuma jadi anggota lembaga kesenian ‘underbow’ masing-masing partai.

Di zaman “orba’-lah keterlibatan artis sebagai anggota partai itu justru mulai menggejala. Keikut-sertaan Sofan Sofian (aktor) di PDI dan Rhoma Irama (musisi) di PPP, agaknya pantas dicatat sebagai ‘penanda’ dari gejala itu. Keputusan itu, bahkan sempat membuat keduanya kehilangan popularitas di jaman Orde Baru. Maklumlah, TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada saat itu, cenderung untuk hanya menampilkan artis-artis yang ‘Golkar-punya’. Jadi, kalau mau populer, ya harus mengisi acara di “kampanye Golkar”, hehehehe.

Jadi sebenarnya, ada nilai plus untuk dua orang ini atas keterlibatan mereka dalam partai non-golkar (memang golkar zaman itu bukan partai ding...). Sebab di zaman itu (pra-98), “tidak golkar” adalah sebuah sikap yang butuh keberanian ekstra. Mungkin semuanya masih ingat, betapa banyaknya artis yang jadi maskot golkar pada zaman itu, apalagi di awal 90-an, ketika golkar praktis adalah partai tunggal negri ini, dengan PPP dan PDI sebagai ‘pelengkap-penderita’ (hihihi).

Pasca keruntuhan Orba, gejala itu semakin marak. Banyak artis, yang mulai menyadari popularitasnya sebagai ‘aset’ berharga, yang dapat mengantarkannya ke ‘kursi-kekuasaan”. Pada pemilu 2004, ada nama: Marisa Haque dan Deddy Sutomo “Miing” (PDI-P), Adji Massaid dan Qomar (Partai Demokrat), serta Dede Yusuf (PAN). Selain itu, ada nama Nia Daniaty (PKPB) Ray Sahetapy (PKB). Sayang, yang dua terakhir, gak sempat bisa ikut tidur, eh.., rapat di Senayan. Mungkin karena salah pilih partai. (hehehe)

Tidak saja pada ranah legislatif, keterlibatan itu bahkan mulai ‘menembus’ ruang ‘eksekutif”. Berturut-turut tanpa mengurutkan, kita dapat sebut Rano Karno (Pilkada Tanggerang), Syaiful Jamil (Pilkada Serang), Helmi Yahya (Pilkada Sumsel), dan terakhir Dede Yusuf (Pilkada Jabar). Rano Karno dan Dede Yusuf terbukti berhasil ‘menjual’ popularitasnya. Sementara Syaiful dan Helmi harus bersabar dulu, hehehe.

Nah, untuk pemilu april 2009 nanti, seperti sudah disebut di awal tulisan ini, ada 49-an nama yang udah masuk daftar nama caleg. Komposisinya berdasarkan partai adalah: PAN (21 nama), PPP (9 nama), PDIP (4 nama), P-Demokrat (4 nama), PDS ( 4 nama), P-Golkar (3 nama), P-Hanura (3 nama) dan P-Gerindra (1 nama). Selain mereka, ada nama Deddy Mizwar dan Ahmad Dhani, yang santer diberitakan sebagai ca-pres dan wa-pres. Bagaimana kiprah para artis ini? Mari kita lihat tonton sandiwara yang satu ini...

Sumber gambar: www.andhranews.net

Singkirkan bingkai

Read more
Sandiwara "Kampanye Damai"; dengan 'tekhnik muncul' yang kurang baik

sandiwara kampanye damai
Paradoks (bertolak-belakang) ! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan adegan pembuka dari sebuah 'sandiwara' yang dipentaskan pagi ini di Indonesia (Senin, 16/3-09). Tepat ketika KPU mendeklarasikan "Kampanye Damai Indonesia", pada saat itu pula, ada yang nyaris baku hantam di ruangan tersebut. Dan perkaranya ?
Sederhana, anak-anak lagi berebut “menandatangani”, dan bu guru KPU sedang tidak punya banyak meja, agar anak-anak bisa serempak menandatanganinya.

Sandiwara, yang berlansung di atas panggung Hall D2 kompleks Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran itu, harus diakhiri dengan keikutsertaan aparat keamanan (Sat-gas KPU), yang juga sempat kewalahan. Maklumlah, yang dihadapi juga para calon wakil rakyat? Dan polisi? Seperti dalam film holiwood, datang setelah superman mengamankan suasana. Sebab jika tidak begitu, dramatika (ketegangan)-nya bisa berkurang, dan jadi kurang asik ditonton.

Pementasan Sandiwara ini, disiarkan banyak stasiun TV, dan rakyat yang menonton kembali dapat hiburan. Jarang-jarang memang ada adegan Sandiwara yang kolosal semacam ini. Apalagi ada nyanyian yang tumpang tindih juga di atas panggung (semacam paduan suara-lah), jadi adegannya semakin lengkap, semacam sandiwara musikal.

Sandiwara ini, sebanarnya ditujukan untuk menandatangi sebuah naskah, yang salah satu dialognya, berbunyi:

“34 partai politik kontestan Pemilu 2009 secara bersama berjanji: akan melakukan kampanye damai, tertib, aman dan lancar; dan akan melakukan kampanye secara penuh edukatif dan bertanggungjawab demi kepentingan bangsa dan negara..”


Kayaknya, tekhnik munculnya kurang pas dengan dialog tersebut, terutama dengan kata ‘edukatif’. Atau mungkin kita mulai harus mengkaji ulang makna banyak-kata, termasuk kata ‘edukatif’ itu. Tapi kepada siapa keluhan penonton ini akan di alamatkan? Tokh para pemain (aktor) utamanya sendiri yang sudah memperagakan adegan awal yang kurang baik itu.

Sutradara (KPU) sebenarnya perlu belajar lagi tentang mementaskan sandiwara. Jika para pemain belum siap mental, atau bahkan belum hapal dialognya masing-masing, sebaiknya jangan dipentaskan dulu. Sebab jika sudah dipentaskan, sudah "bergelanggang mata orang banyak", sudah susah memeprbaiki citra tontonan, seperti yang terjadi pada adegan awal ini.

Sekarang, mungkin sutrdara (KPU) sendiri yang juga harus banyak latihan (meski waktunya tak akan cukup lagi), atau minimal siap mental, untuk menghadapi banyak kemungkinan dalam pementasan Sandiwara ini nantinya. Sebab jika ‘tekhnik munculnya saja sudah riuh-ramai, bukan tidak mungkin pentas nya akan bergemuruh. Dalam sandiwara ada namanya nada dasar, yaitu nada awal yang diambil untuk memulai ‘pementasan’. Sebaiknya jangan terlalu tinggi, nanti pada ‘puncaknya’ (klimaks) bisa kehabisan nafas.

Bagi para penonton (rakyat-banyak), mungkin perlu diberi catatan juga, bahwa “adegan ini jangan dicontoh dalam kehidupan sehari-hari”. Sebab mengamati adegan pembuka di atas, sekarang adalah peranan kita semua, untuk menjadi tokoh ‘penengah’. Apa boleh buat, meski tidak diikutkan dalam latihan, tampaknya pementasan Sandiwara ini memerlukan ‘tokoh tambahan’. Agar pementasan tidak berakhir dengan antiklimaks, harus ada yang membawa ‘jalan-keluar’ (resolusi) dan penyelesaian (kongklusi).

Jangan khawatir tidak bisa berperan dengan baik, sebab pada dasarnya improvisasi adalah hal biasa dalam pentas-pentas sandiwara kita. Dan sebagai figuran dari sandiwara ini, kita harus percaya pula, bahwa kedamaian itu laten dalam pribadi kita semua. Mudah-mudahan, “kampanye-damai” dan “pemilu-damai” benar-benar bisa kita pentaskan bersama. Semoga...

Sumber Gambar: www.jurnalperu.com
Read more