Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected

artis di dunia politik
Akhir-akhir ini, orang lagi tertarik memperhatikan artis yang masuk kancah (kuali kaleee, hehehe) politik. Dan sang artis yang memang suka ‘diperhatikan’, karena itu memang sumber penghidupannya, kayaknya juga sedang merayakan kesempatan itu. Semakin banyak saja yang berminat mencoba peruntungannya di wilayah ini. Untuk Pemilu 2009, tidak kurang dari 49 nama artis telah tercatat sebagai ‘caleg’ di KPU. Nah, tulisan ini maksudnya cuma mau mengawali cerita seputar itu. Bukannya sok ‘pengamat politik’ (hehehehe) tapi betapapun hal itu menarik buat diceritakan (ya, iyalah, namanya juga artis). Sekedar cerita buat inspirasilah...

Keterlibatan atau (cuma) kedekatan artis (untuk sementara kita lupakan konotasi kata ini) dengan dunia politik, sebenarnya bukanlah hal baru. Bahkan sudah dimulai sejak politik dikenal sebagai kegiatan manusia yang perlu dan penting. Yunani klasik adalah ‘sejarah’ (yang tercatat, maksudnya) yang meletakkan dasar bagi hal ini. Maklumlah, para ‘orang-pintar’ di negara-kota ini, rata-rata juga adalah penulis puisi, filsuf dan juga sekaligus negarawan.

Socrates (Yunani, 400 SM), adalah orang yang layak dicatat, sebagai wakil seniman (meski ia lebih seriang disebut sebagai filsuf) pertama yang memasuki wilayah politik. Meski tidak pernah menjadi senator, apalagi tiran, tapi ia telah membuka jalan, dengan memposisikan dirinya sebagai oposan terhadap pemerintahan “Tigapuluh-Tiran” Athena. Pikirannya ini adalah awalan bagi konsep “dimokratia”, yang memberikan kesempatan kepada semua orang (tanpa memandang garis keturunan) untuk terlibat dalam urusan-urusan negara. Pada saat yang sama, ia mengembangkan sekelompok orang-orang terpelajar (Aristokrat)

Murid sokrates, Plato, kemudian merumuskan pikiran-pikiran tersebut dalam sebuah buku yang sangat terkenal berjudul “Republik” (berarti untuk rakyat). Buku ini terkadang di sebut juga sebagai Politeia (berarti negara), dan merupakan jadi salah satu acuan penting bagi dunia politik dunia, bahkan sampai sekarang. Plato mengkategorisasikan negara berdasarkan ‘nyawa’ nya menjadi aristokrasi (pemerintahan oleh orang-orang terbaik), timokrasi (pemerintahan oleh orang-orang yang berjasa), oligarkhi (pemerintahan oleh sekelompok orang), tirani (pemerintahan oleh seorang tiran), dan demokrasi (pemerintahan oleh masyarakat).

Kita mungkin bisa menambahkan, seturut berbagai pembicaraan tentang perintahan, kategori monarkhi (pemerintahan oleh seorang raja), meritokrasi (pemerintahan oleh individu yang paling pantas untuk memimpin) dan plutokrasi (pemerintahan oleh orang-orang kaya). Lantas bagaimana dengan pemerintahan oleh artis atau bahkan selebritis? Sebab kayaknya gak ada tuh? Hehe, mungkin ada kategori baru yaitu perifimokrasi (pemerintahan oleh orang terkenal) atau bahkan polikrotokrasi (pemerintahan oleh selebriti). Tapi yang dua terakhir jangan dipake buat kuliah il-sos-pol ya. Ini hanya ‘istilah’ yang saya buat sendiri, soalnya. Hehehe.

Kembali ke Plato, dari sana sudah terlihat, bahwa keterlibatan seniman atau artis di dunia politik, erat kaitannya dengan pengakuan terhadap persamaan dan kemerdekaan manusia, yang merupakan salah satu azas demokrasi. Pandangan Sokrates, yang dituliskan dan dikembangkan Plato tersebut, pada dasarnya mendorong kebebasan individual untuk masuk dan terlibat dalam pengambilan kebijakan negara.

Revolusi Prancis (1789), oleh sebab itu, harus di catat sebagai ‘tonggak’ sejarah pula. Keterlibatan Jean Rousseau dan Voltaire, dalam kancah revolusi itu, bisa dipandang sebagai perwakilan seniman, meski keduanya juga lebih dikenal sebagai filsuf politik. Yang jelas, revolusi tersebut menandai berakhirnya monarkhi dan dimulainya ‘liberasi’, yaitu kebebasan tanpa batas bagi individu di Perancis. Bahkan, sampai hari ini pun, Prancis dikenal sebagai negara liberal yang paling konsisten.

Di Indonesia, kedekatan artis dengan kekuasaan sebaya dengan umur republik ini. Di zaman presiden Soekarno, bahkan ada istilah ‘seniman negara’. Bahkan, kedekatan sang presiden dengan beberapa artis sempat menimbulkan ‘rumor’ tertentu (wallahu alam, kalu soal ini), yang nyaris mirip ‘rumor’ JF. Kenedy dan Marlyn Monroe. Hehehe, hebat... Yang jelas, sesuai dengan semboyan “politik sebagai panglima”-nya sang presiden, para artis zaman itu, rata-rata punya afiliasi politik yang tegas (ada istilah “kanan-kiri”, wokeehh...., segala), tapi tidak jadi anggota partai atau parlemen. Rata-rata cuma jadi anggota lembaga kesenian ‘underbow’ masing-masing partai.

Di zaman “orba’-lah keterlibatan artis sebagai anggota partai itu justru mulai menggejala. Keikut-sertaan Sofan Sofian (aktor) di PDI dan Rhoma Irama (musisi) di PPP, agaknya pantas dicatat sebagai ‘penanda’ dari gejala itu. Keputusan itu, bahkan sempat membuat keduanya kehilangan popularitas di jaman Orde Baru. Maklumlah, TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada saat itu, cenderung untuk hanya menampilkan artis-artis yang ‘Golkar-punya’. Jadi, kalau mau populer, ya harus mengisi acara di “kampanye Golkar”, hehehehe.

Jadi sebenarnya, ada nilai plus untuk dua orang ini atas keterlibatan mereka dalam partai non-golkar (memang golkar zaman itu bukan partai ding...). Sebab di zaman itu (pra-98), “tidak golkar” adalah sebuah sikap yang butuh keberanian ekstra. Mungkin semuanya masih ingat, betapa banyaknya artis yang jadi maskot golkar pada zaman itu, apalagi di awal 90-an, ketika golkar praktis adalah partai tunggal negri ini, dengan PPP dan PDI sebagai ‘pelengkap-penderita’ (hihihi).

Pasca keruntuhan Orba, gejala itu semakin marak. Banyak artis, yang mulai menyadari popularitasnya sebagai ‘aset’ berharga, yang dapat mengantarkannya ke ‘kursi-kekuasaan”. Pada pemilu 2004, ada nama: Marisa Haque dan Deddy Sutomo “Miing” (PDI-P), Adji Massaid dan Qomar (Partai Demokrat), serta Dede Yusuf (PAN). Selain itu, ada nama Nia Daniaty (PKPB) Ray Sahetapy (PKB). Sayang, yang dua terakhir, gak sempat bisa ikut tidur, eh.., rapat di Senayan. Mungkin karena salah pilih partai. (hehehe)

Tidak saja pada ranah legislatif, keterlibatan itu bahkan mulai ‘menembus’ ruang ‘eksekutif”. Berturut-turut tanpa mengurutkan, kita dapat sebut Rano Karno (Pilkada Tanggerang), Syaiful Jamil (Pilkada Serang), Helmi Yahya (Pilkada Sumsel), dan terakhir Dede Yusuf (Pilkada Jabar). Rano Karno dan Dede Yusuf terbukti berhasil ‘menjual’ popularitasnya. Sementara Syaiful dan Helmi harus bersabar dulu, hehehe.

Nah, untuk pemilu april 2009 nanti, seperti sudah disebut di awal tulisan ini, ada 49-an nama yang udah masuk daftar nama caleg. Komposisinya berdasarkan partai adalah: PAN (21 nama), PPP (9 nama), PDIP (4 nama), P-Demokrat (4 nama), PDS ( 4 nama), P-Golkar (3 nama), P-Hanura (3 nama) dan P-Gerindra (1 nama). Selain mereka, ada nama Deddy Mizwar dan Ahmad Dhani, yang santer diberitakan sebagai ca-pres dan wa-pres. Bagaimana kiprah para artis ini? Mari kita lihat tonton sandiwara yang satu ini...

Sumber gambar: www.andhranews.net

Singkirkan bingkai

Different Themes
Written by Lovely

Aenean quis feugiat elit. Quisque ultricies sollicitudin ante ut venenatis. Nulla dapibus placerat faucibus. Aenean quis leo non neque ultrices scelerisque. Nullam nec vulputate velit. Etiam fermentum turpis at magna tristique interdum.

23 comments:

  1. yups, see and waiting apa yang terjadi setelah tgl 9 april :D

    ReplyDelete
  2. keduaXXX bro,,,,,,
    met sore...
    kayaknya... politisi kita dah berubah haluan tu,,,
    jadi slebritis...
    atau rakyat yg ga doyan politisi lagi???
    ahh,,, paniang kapalo....

    ReplyDelete
  3. Harusnya ada wakil dari blogger juga tuh..jgn kalah sama artis.. :)

    ReplyDelete
  4. Iya, Entr buat Struktur pemerintahan BLogger haha..
    Pilih Saya hehe..
    Lagi demen2 nya buat artikel mengenai Pemilu juga..

    ReplyDelete
  5. Untuk jadi wakil dari blogger harus ada pemilihan umum ala blogger kali, biar ada wakil blogger, mbuh malah bingung aku......

    ReplyDelete
  6. Kalau gitu..., patut pula ada perwakilan komunitas blogger yang maju jadi calon..., entah itu nanti calon presiden, gubernur, walikota atau bupati hehehe.....

    ReplyDelete
  7. HEHEHHE, ITULAH INDONESIA. MAU GIMANA LAGI, YANG PENTING RAKYATNYA JGN DI LUPAIN, ITU AJA. G LEBIH.

    ReplyDelete
  8. Kita liat dah, apa yang akan terjadi selanjutnya pada bangsa tercinta ini...

    ReplyDelete
  9. hahahah sekalian aja kita bikin negara blogger indonesia

    kata nya mr.JK ngadain pertemuan sama blogger2 gtu

    ReplyDelete
  10. kayaknya gw yang nantinya terjun ke dunia politik.........wkwkwkwkwkkkkk

    ReplyDelete
  11. Klo caleg mendadak ngeblog itu udah banyak
    tapi klo bloge ikut nyaleg...nah tu dia, perlu atuh di coba, bikin dulu Partai Bloger Bersatu
    kereeeeennn....

    Salam kenal Mas!!

    ReplyDelete
  12. aji mumpung mas....cuma itu keahlian yang mereka punya...
    salam kenal

    ReplyDelete
  13. bener banget, menang tampang dan tenar nya sob,
    tp blum tau niy isi kepalanya hehehehe...
    wait and see yuk yak yukk.....

    ReplyDelete
  14. sindiran yang baik bagi politikus kita

    ReplyDelete
  15. mungkin hak mereka tapi kewjiban kita tuk waspada.....

    ReplyDelete
  16. Sekarang banyak orang yang ingin beralih profesi karena suatu obsesi dan tujuan pribadi.

    Banyaknya artis, seniman dan segala bidang profesi lainnya yang mencalonkan diri menjadi caleg faktor utama terbesar adalah hanya karena materi dan gengsi.

    Banyak yang tergiur menjadi caleg karna pendapatan perbulan yang lumayan menggiurkan...bayangkan saja gaji pokok perbulan anggota DPR Rp.15juta, Uang Komunikasi Rp.12 juta dan tunjangan lainnya yang bila diakumulasikan pertahun mencapai 500juta lebih dan itu hanya untuk satu anggota DPR saja...dan belum lagi ditambah dengan pendapatan dari luar khas negara.

    Artis atau seniman mana coba yang tidak tergiur....!!!

    Itulah realita politik negeri kita yang mengandalkan obsesi pribadi demi materi.

    ReplyDelete
  17. Haha...Malah pada larut buat negara Blogger haha..

    ReplyDelete
  18. lagi demen ama pemilu nih kaya'e
    ato jangan2 caleg neh???

    ReplyDelete
  19. Tuh khan benar, menarik topik yang satu ini...banyak yang komentar...hahahah. Gak denk, Mau terimakasih aja sama yang sudah berkomentar.
    @bening: jangan khawatir, saya minatnya jadi bloggerikus kok, bukan politikus..hahaha

    ReplyDelete

PIKIRAN SAHABAT SEMUA MUNGKIN AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA
JADI JIKA BERKENAN, SUDILAH KIRANYA MENINGGALKAN KOMENTAR, DI KOTAK INI: