Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected

sandiwara blog online
Selamat datang semua. Hari yang cerah ya…(Sok tau aja ini, di tempat teman-teman lain padahal saya gak tahu, hahahaha). Tapi Saya tetap berharap di hati kita semua, ada kecerahan. Amin. Hmm, di hari yang baik ini, saya mau berbincang dengan teman-teman perihal Blog sebagai sandiwara. Lho, maksudnya apa lagi? Hehe, jangan terlalu ‘berat’ dan ‘gelap’ merespon judul tersebut. Hanya sebuah ajakan untuk bertukar pikiran, tentang dunia “per-blog-an” yang sama-sama kita ‘perankan’ ini.

Kita semua tahu, bahwa kehadiran blog dalam “dunia maya”, menggeser cara orang untuk menghadirkan dirinya di dunia ‘nir-waktu dan tempat’ ini (‘atau dunia yang dilipat’ kata Yasraf Amir Piliang), yang kita semua namakan sebagai Inter-net. Wah, apa lagi ya maksudnya ?Ya, sederhana aja kok. Memang kita tidak lagi membutuhkan kesamaan ruang dan kesamaan waktu, untuk bisa bertemu satu-sama lain khan? Ayo, di mana sekarang kita bertemu? Di komputer sayakah? Dan Jam berapa sekarang? Atau bahkan, sekarangkah sekarang? (Hehehe, bingung khan? Sama, saya juga...)

Beberapa waktu yang lalu, setiap orang merasa bahwa memiliki alamat surat elektronik (e-mail) adalah sebuah keharusan untuk menyatakan keber’ada’annya di wilayah-siber. Seperti sebuah KTP yang kita perlukan di kehidupan nyata, alamat email, adalah identitas kita masing-masing di dunia maya. Dahsyatnya, kita semua yang berbeda-beda negara, ras, suku, agama dan pandangan politik dalam kehidupan sehari-hari ini, bisa bersaudara di dunia maya. Jika dalam kehidupan nyata kita punya kewarganegaraan RI, Malaysia, Australia, dan lain-lain, maka di dunia maya, kita punya kewarganegaraan Yahoo, Google, MSN, atau yang lainnya. Dan hebatnya lagi, boleh memiliki kewarganegaraan sebanyak-banyaknya....

Sekarang, hak kewarganegaraan itu bertambah dengan adanya kepemilikan terhadap web-log, situs personal, web perorangan atau “blog” (Tentu setelah itu, kita harus juga berbincang soal Jejaring Sosial Siber semacam Facebook dan Friendster. Tapi mungkin lain waktu). Dengan adanya blog, orang tidak lagi sekedar memiliki alamat di dunia maya, tapi juga bisa membangun ‘wajah’ dan penampilannya. Jika di kehidupan nyata kita punya bentuk fisik yang “fitrah” sifatnya (taking as gived), dengan fasilitas blog masing-masing, kita berkesempatan membuat dan membangun sendiri wajah dan tubuh kita di dunia maya. (Tentang ini juga, mungkin secara khusus kita bincangkan lain waktu).

Nah, dengan cara itu lah, maka blog, menjadi panggung sandiwara kehidupan yang baru. Seperti layaknya kehidupan dunia nyata, melalui blog, dunia maya menghadirkan “watak” manusia, percakapan antara manusia, latar belakang dan bahkan alur cerita kemanusiaan sendiri. Dan karena itu, saya menamakannya, sandiwara yang online. Interaksi kemanusiaan yang dipanggungkan oleh sebuah garis ‘tak-terlihat’ yang menghubungkan dan memanggungkan kehidupan dari tempat dan waktu yang berbeda-beda, pada satu waktu dan ruang baru, ruang siber (Wuih dahsyat!).

Bagaimanapun, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, masing-masing kita (blogger) tengah memulai proses penjatian-diri (identifikasi) bahkan sejak pertama kali kita memilih “sang-pemberi fasilitas” (Blogspot, WP, Blogsome, dan lain-lain). Kemudian, dilanjutkan dengan memilih template dan mengaturnya (memilih warna, jenis dan ukuran huruf, dan seterusnya. Lalu, dengan menentukan konten (isi) dari blog itu. Bukankah itu semua kemudian akan jadi ‘jati-diri maya’ sang blogger?

Lalu setelah itu, kita mulai berinteraksi satu sama lain. Bisa lewat pesan2 singkat di shoutbox, tapi juga lebih banyak lewat komentar di postingan. Bukankah ada citraan yang terbangun tentang ‘sang-blogger’ yang memiliki sebuah blog, ketika kita mengunjungi blognya, apalagi membaca postingan-postingannya? Dengan cara itulah kita saling mengenal, dan punya bayangan ‘sendiri’ tentang teman kita di dunia ‘maya’ ini. Dan semua itu berlansung tahap demi tahap, dan membangun sebuah alur cerita. Dia akan diakhiri, ketika sang blogger memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan, eh, perbloggeran, hehehe. Dengan menghapus blognya, maka seseorang telah me‘mati’kan pula seorang tokoh dari panggung sandiwara yang satu ini. (wuakakakakakakak).

Lalu, apakah kehadiran “watak”, percakapan dan alur itu cukup untuk menyebutnya Sandiwara? Tentu tidak, sebab hal yang paling substansial dari sebuah sandiwara belum dipenuhi. Apakah itu ? Adanya “pertentangan” (konflik), “kejutan” , dan “tegangan”, atau terlibatnya perasaan dan pikiran para tokohnya. Benar, bahwa kita sesama blogger tidak saling bersiteru (dan kuharap tidak sampai kapan-pun, amin..), tapi apakah perasaan dan pikiran tidak pernah terlibat ketika sanak semua membangun blog masing-masing?

Kita, mulai waspada terhadap spam, mulai was-was blognya tidak ada pengunjung, tegang menunggu pagerank dan alexa-rank meningkat. Bahkan aja kejutan-kejutan ketika ketika membuka email, akun paypal (hehehe) atau yang lain. Lalu, bukankah kekritisan mulai diransang, ketika mengunjungi blog lain, dan atau juga saat menanggapi komentar dan bahkan Shoutbox? Minimal, kita akan mulai tahu mana konten blog yang co-pas, mana yang orisinil? Demikian juga mengenali mana yang spam, dan mana yang dari sahabat sendiri? Secara spontan saja (dan lama-lama menjadi bawah sadar, karena terbiasa) kita tak lagi mengklik link dari komentar yang bernada spam di shoutbox...(yang ini curhat neh..., hahaha).

Lalu, keadaan itu menimbulkan perbenturan sendiri bagi kita. Alur sandiwaranya bergulir seiring upaya kita memahami dunia per-bloggeran secara berangsur-angsur, dan punya menimbulkan lika-liku (fluktuasi) tersendiri. Persoalan- demi persoalan diuraikan dan diatasi, mulai dari mengatur template sesuai kebutuhan kita masing-masing, hingga soal membagi waktu, antara aktifitas di ‘dunia pertama’ (nyata) dan dunia ‘kedua’ (maya). Dengan cara itu, blog menghadirkan pertentangan dan antagonisma (keburukan) tersendiri (ini curhat yang kedua, hahahahahahahahaha).

Sampai di situ, lengkaplah ia menjadi sandiwara, ketika peran ‘blogger’ menemukan sisi baiknya sebagai tokoh baik (protagonis) melawan tokoh jahat (antagonis). Antagonis itu, bisa hadir dari dalam diri sendiri dan dari luar. Dari dalam diri sendiri, antagonisnya akan berupa kemandulan kreatif, kebuntuan gagasan dan sejenisnya. Dari luar, dapat berupa spam, virus, penipuan via-net, gangguan jaringan, dan yang mungkin paling terasa adalah hadirnya ‘tokoh-tokoh’ penjiplak (yang mengutip keseluruhan tulisan orang tanpa menyebutkan sumbernya).

Jika seorang blogger memilih untuk menyerah dan ‘asal-aja’ (pramatis), berarti ia kalah dan mengakhiri ‘perannya’ sebagai tokoh utama. Sekarang ia bermain dalam naskah baru, sebagai figuran. Misalnya sebagai tukang co-pas....(tapi saya yakin sahabat-sahabat saya bloging saya tidak begitu, amin...). Tapi inti pembicaraannya, dengan adanya tokoh-tokoh itu, maka semua elemen dan substansi (isian) dari sebuah pentas sandiwara telah terpenuhi.

Dan, akhirnya, selamat datang di Sandiwara Online, dan selamat berpentas....hehehehehe.

Sumber Gambar: blog.madisonwhoswho.com
Different Themes
Written by Lovely

Aenean quis feugiat elit. Quisque ultricies sollicitudin ante ut venenatis. Nulla dapibus placerat faucibus. Aenean quis leo non neque ultrices scelerisque. Nullam nec vulputate velit. Etiam fermentum turpis at magna tristique interdum.

1 comment:

PIKIRAN SAHABAT SEMUA MUNGKIN AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA
JADI JIKA BERKENAN, SUDILAH KIRANYA MENINGGALKAN KOMENTAR, DI KOTAK INI: