Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected

belajar sandiwara sekolah
Beberapa saat yang lalu, kami pernah ditanyai seorang teman, yang kebetulan guru sekolah menengah pertama. Ia menanyakan, sebenarnya kelompok sandiwara sekolah itu, tujuannya apa? Tulisan berikut, adalah jawaban dan pandangan kami terhadap hal tersebut.


Proses pembelajaran Sandiwara di sekolah pada dasarnya seperti sama seperti praktek teater profesional. Ia juga adalah proses mematerialisasikan gagasan-gagasan. Hanya saja, secara khusus ia ditujukan untuk membelajarkan siswa untul mengkomunikasikan gagasan-gagasannya itu kepada penonton. Di sinilah letak pergeseran tujuannya. Yaitu, bahwa penekanannya, justru pada pembelajaran.

Oleh sebab itu, guru, akan bertindak sebagai motifator dan instruktur, dan sebaiknya menghindari untuk bertindak sebagai sutradara. Tentunya, proses pembelajaran akan berlansung lebih sempurna, jika siswa sendiri akhirnya mesti menemukan satu pendekatan, metode ataupun bahkan gaya yang tepat untuk keadaannya. Sehingga, proses semacam ini, dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan para siswa sendiri. Yang perlu dievaluasi adalah kesanggupan siswa untuk membangun pertunjukan, sehingga gagasan yang hendak dikomunikasikannnya tersebut sampai dan diterima penonton dengan baik.

Tentu saja di sisi yang lain, sebagai tenaga edukatif, seorang guru dapat menginisiasi terciptanya pilihan-pilihan sistematika, metode, dan bahkan gaya penciptaan produksi Sandiwara sekolah. Proses inisiasi ini tentunya harus sebanding dengan jumlah kuantitatif praktik para tenaga edukatif tersebut, yang selain sebagai sebagai akademisi, sebaiknya juga seniman pelaku. Artinya, ia dapat membuat grup sendiri, sebagai sebuah laboratorium, di luar konteks belajar-mengajarnya. Hal lain yang penting pula untuk dipertimbangkan tentunya peserta proses yang notabene adalah siswa sekolah. Karenanya, segala tujuan produksi Sandiwara, tetap harus didasarkan pada keadaan 'pembelajaran' tersebut.

Pembelajaran Sandiwara di Sekolah, salah satu bentuk praktiknya dapat ditujukan untuk 'pembelajaran kesejarahan'. Produksi semacam ini, dapat mendorong terciptanya daya 'kritis' terhadap sejarah perjuangan bangsa, yang juga dapat menginternalisasikan nilai-nilai kesejarahan tersebut. Secara operasional, produksi sandiwara semacam ini dapat ditujukan untuk:

1. Bagaimana menginisiasi siswa untuk belajar mentransformasikan momentum-momentum sejarah ke dalam bentuk pertunjukan sandiwara; Bagaimana menyusun pengadeganan berdasarkan kronologis momentum sejarah tersebut dari fakta- fakta sejarah yang ada.
2. Bagaimana mengajarkan siswa untuk menyutradarai pertunjukan sandiwara yang didasarkan pada fakta-fakta momentum sejarah tersebut, sehingga pertunjukan bisa mengkomunikasikan fakta-fakta yang sejarah, sekaligus mengajarkan peserta proses untuk memerankan mengambil posisi ktitis terhadap momentum sejarah tersebut.

Secara garis besar proses pembelajaran sandiwara ini terdiri atas: (1) menentukan bentuk dan gaya pertunjukan, (2) penyusunan skript dramatik (naskah sandiwara), (3) penyusunan tim kerja, (4) iventarisasi kebutuhan artistik dan tekhnis, (5) penyusunan jadwal.

Pada tahapan perencanaan, Pengajar sekaligus sutradara melakukan pembacaan terlebih dahulu terhadap segala bahan-bahan yang telah dikumpulkan, baik dari anggota kerabat kerja maupun dari berbagai narasumber, sutradara akan menyusun rencana kerja produksi yang akan digunakan sebagai pedoman bagi pelaksanaan proses.

Setelah itu, yang penting dilakukan adalah membentuk tim produksi. Hal ini sekaligus menjadi cara untuk mengajarkan cara kerja berkelompok, sekaligus dasar-dasar berorganisasi, yang secara lebih khusus adalah organisasi sandiwara sekolah. Kesadaran yang perlu ditransformasikan adalah, bahwa sandiwara adalah kerja kolektif, yang tidak bisa dilakukan secara perseorangan. Maju-mundurnya sebuah Sandiwara Sekolah, sangat tergantung dari kuat dan berjalannya 'masyarakat' yang dibangun ini.

Bersama dengan tim produksi, sutradara akan membahas tentang segala aspek produksi untuk mengiventarisasi segala kebutuhan produksi. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dan membuka masukan-masukan dari tim. Selanjutnya sutradara mempersiapkan berbagai hal yang bersifat mendukung rencananya, seperti pemilihan pemain dan merencanakan anggaran. Masalah fasilitas teknis dan fasilitas produksi juga harus dipertimbangkan dan ditinjau kembali kesiapannya.

Sebelum produksi, diadakan pertemuan tim dengan tujuan dan mempresentasikan konsep garapan. Setelah konsep selesai, kemudian dilakukan pra-produksi Dilanjutkan dengan proses latihan. Seluruh kegiatan sebelum latihan melalui proses perencanaan. Dalam perencanaan yang harus dikerjakan secara garis besar adalah setelah topik utama dipilih (visi dan misi), kemudian dilakukan penuangan ke dalam naskah, lalu pemilihan kerabat kerja, perencanaan proses produksi secara rinci, dan selanjutnya rencana proses pelatihan.

Sumber Foto: www.smasteater.worpress.com
***
Different Themes
Written by Lovely

Aenean quis feugiat elit. Quisque ultricies sollicitudin ante ut venenatis. Nulla dapibus placerat faucibus. Aenean quis leo non neque ultrices scelerisque. Nullam nec vulputate velit. Etiam fermentum turpis at magna tristique interdum.

3 comments:

PIKIRAN SAHABAT SEMUA MUNGKIN AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA
JADI JIKA BERKENAN, SUDILAH KIRANYA MENINGGALKAN KOMENTAR, DI KOTAK INI: