masukkan email untuk berlangganan:
DenganFeedBurner

Jendral Soedirman, Suatu Malam di Bulan Desember 48

Oleh Dipa Sandiwara at Saturday, March 28, 2009

panglima besar jendral sudirman

Cerita Sang Panglima Besar


Pada19 Desember 1948, baru saja azan subuh berlalu, bandar udara Maguwo, diserang oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Inilah pagi hari, yang menandai Agresi Militer Belanda ke-II. Sebuah sandiwara, yang mereka namakan sendiri sebagai "Aksi Polisional". Dengan Sombong, WTM Beel, yang mengatas-namakan mahkota kerajaan Belanda, berpidato di radio. Ia menyatakan bahwa Belanda tidak lagi mengakui Persetujuan Renville, yang pada saat itu sama artinya dengan tidak lagi mengakui RI sebagai negara berdaulat. Tidak lama setelahnya, Belanda melancarkan serangan ke semua wilayah Republik di pulau Jawa dan Sumatera. Tidak terkecuali, ke Ibukota Republik, yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta.

Sejarah sedang bergerak, membentuk alur sandiwara-nya sendiri. Sebab pada saat yang sama Soekarno, Hatta, dan Sjahrir tengah berada di Ibukota. Dengan mudah, tentara agresor NICA Belanda menawan tiga orang simbol pemerintahan Republik Indonesia. Sebab beberapa saat sebelumnya, sidang kilat Kabinet memutusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) dan kontak-kontak diplomatik. “Bayi’ RI, yang baru berumur tiga tahun, berada dalam sebuah ‘titik nadir sejarah’-nya. Kejatuhan ibu kota negara, dan ditawannya para pimpinan tertinggi RI, menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Selang beberapa saat sebelum itu, Jendral Soedirman, sang Panglima Besar, meninggalkan ibukota, dalam keadaan sakit. Memutuskan untuk memimpin ‘Perang Gerilya’. Tanpa obat-obatan, Panglima Besar yang terlahir sebagai anak lelaki dari pekerja Pabrik Gula Kalibagor itu, menerobos hutan belantara, menyebrangi sungai dan lembah, dalam perjalanan tidak kurang dari delapan bulan. Berpindah-pindah, dari desa ke desa di sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang rutenya melebihi 1000 km. Seringkali, Jendral Soedirman harus ditandu atau digendong oleh para prajuritnya, karena sakit keras yang dideritanya.

Bayangkan apa yang bisa terjadi ?
Dilihat dari sudut pandang apapun, ada dua orang yang dengan mudah dapat merebut kekuasaan RI pada saat itu, dan membelokkan alur sejarah. Sjafruddin Prawiranegara, yang menerima mandat PDRI, dan Jendral Soedirman, sang Panglima Besar TRI. Dengan cara yang berbeda, keduanya memiliki kesempatan, untuk menjadikan dirinya sebagai orang nomor satu di Republik yang juga masih muda. Tidak akan ada yang menyalahkan, jika salah seorang diantara mereka, kemudian menjadikan dirinya Presiden Republik. Tokh, Soekarno-Hatta beserta PM. Syahrir, sedang ‘berhalangan’. Tapi, dibandingkan Sjafruddin, Jendral Soedirman lebih berpeluang. Pertama karena ia berada di Jawa, di dekat semua akses pemerintahan, dan kedua, karena ia adalah ‘jari’ dari semua pelatuk bedil di negeri ini, pada waktu itu.

Sebagai manusia biasa, bukan tidak mungkin pikiran itu bisa saja ‘lewat’ dalam pikiran sang Panglima Besar. Pada suatu malam di antara batuk, dan gigitan nyamuk di hutan-hutan jati pulau Jawa. Pada suatu malam, ketika ia bayangkan kembali ketidak-sepakatannya dengan jalan diplomasi yang ditempuh Soekarno-Hatta. Pada Suatu malam, jika ia renungkan perseberangan pandangan politiknya dengan kelompok Amir Sjarifuddin dan Sjahrir, yang waktu itu menguasai pemerintahan. Pada suatu malam, di hutan belantara pulau Jawa, di antara desing nyamuk malaria, dengan paru-paru tinggal sebelah, tanpa obat-obatan, tanpa tenda dan selimut. Pada suatu malam, dalam gerilya seorang Panglima Besar, dalam perjuangan seorang Jendral Soedirman.

Tapi bukankah, Jendral Soedirman tidak pernah melakukan itu. Bukan karena ia tidak tahu. Terlalu mudah untuk memikirkan hal itu bagi seorang yang pernah sekolah di sekolah guru. Bukankah ia lebih memilih untuk menjaga keutuhan komando tentara, menjaga manunggalnya TRI dengan pemerintah. Bukankah kemudian sejarah Republik ini mencatat, bahwa Jendral Soedirman memilih mengorbankan dorongan hati nuraninya sendiri, untuk mempertahankan keutuhan RI. Jendral Soedirman tidak pernah menyalahgunakan kesempatan besar sejarah itu. Ia memilih menanggungkan beban fisik dan psikologisnya sekaligus untuk membela keutuhan negaranya. Sebagai manusia, ia mungkin saja pernah tergoda, pada suatu malam, dalam gelapnya hutan-hutan jati pulau Jawa. Dengan paru-paru tinggal sebelah, dan bayangan maut yang siap datang kapan saja.

Sejarah lalu bicara, ‘perang gerilya’ yang dipimpinnya, kemudian membuka mata dunia. RI adalah negara berdaulat dengan tentara yang kuat dan terorganisir rapat. 10 Juli 1949, setelah berpindah-pindah dalam perjalanan melelahkan, Jendral Soedirman kembali ke Ibukota, menyerahkan tampuk pimpinan Gerilya, pada pemimpin yang dicintainya, Soekarno-Hatta. Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presiden dengan Hatta sebagai Perdana Menteri, dan sebuah Kabinet untuk Republik Indonesia Serikat, menjadi ‘penanda’ pengakuan Belanda terhadap RI berdaulat. 32 hari kemudian, 29 Januari 1950, sang kesatria, Jendral Soedirman, menutup mata untuk selama-lamanya. Sang kesatria pergi, begitu tugasnya selesai, tak menunggu penghargaan, tak menunggu tanda jasa. Dan sebuah malam, tentang Panglima Besar Jendral Soedirman yang dalam tulisan ini dikisahkan, tidak pernah ada, hanya sekedar bahan, untuk kita renungkan.

Sumber Gambar:www.jagoan.or.id

Tulisan Terkait



14 komentar:

jhoni on March 28, 2009 7:51 AM said...

damm.....its a nice story!!!
salut buat anda nih ternyata cerita dg latar belakang sejarah begini menarik juga ya!!!

kalo saya cenderung ngayal bikin komiknya hahahaha.....lam kenal

kakve-santi on March 28, 2009 8:52 AM said...

semangat itu penting.... :D

ajeng on March 28, 2009 9:52 AM said...

Awalnya sih saya kira akan membaca kisah sejarah, ternyata 'kisah' lain ya. Siip..

Krisna on March 28, 2009 12:15 PM said...

Sebuah kisah kepahlawan original Indonesia... semoga dapat menjadi tauladan bagi kita semua

Sandiwara Kita on March 28, 2009 3:52 PM said...

@Jhony: Waha mantap tuh, kalau komiknya dah jadi iklan gratis di Sandiwara Kita dech..., Ditunggu ya.
@Kakve-santi: semangat yang mana bro? hehehe. Semangatnya Ksatrianya Soedirman?
@Ajeng: SiiiiiiiP !
@Krisna: Oke, bro, tauladan buat yang nulis terutama ya...

Blendunk's Blog on March 28, 2009 6:25 PM said...

wah keren nih..

padahal kl d skolah dulu boring baget ma pelajaran sejarah, tapi disini jadi ketagihan euy..

salut deh wat y ponya blog....

lanjutkan....

Suara Fajli on March 28, 2009 9:10 PM said...

kira2 mungkin nggak ya Indonesia ini bakalan punya seorang "Jendral Soedirman lainnya" lagi??
Atow...Jendral Naga Bonar (dedy mizwar) itu merupakan titisannya?hehe..

Sandiwara Kita on March 29, 2009 12:49 AM said...

@Blendunk: TQ sob, pujiannya memabukkan, hahaha. Btw, saya juga bukan penyuka pelajaran itu waktu sekolah, hahaha
@Suara Fajli:Bisa-jadi tuh pak haji yang satu itu, tapi dia khan bukan militer sungguhan. Militer sungguhan malah berminat semua jadi RI 1 kayaknya, hahahaha.

IHSAN on March 29, 2009 3:11 PM said...

mengapa terkadang sejarah kaya gini kok dilupakan generasi muda ya?

bayunature on March 29, 2009 5:04 PM said...

Pada masa sekarang ini, mendekati PEMILU..kita membutuhka orang seperti beliau....ADA nGa YAA!!

alphawave on March 29, 2009 5:31 PM said...

bacaan yang menyegarkan bro.. thanks :)

Sandiwara Kita on March 30, 2009 1:12 PM said...

@IHSAN; Gak juga akh, San. Kita semua kan juga generasi muda ? Gak lupa khan? Trims ya...
@bayunature:Betul bro, ada gak ya? Kita liat aja, tapi sekali lagi, para Jendral zaman sekarang kayaknya beda dech...
@alphawave: Yop bro, sukurlah kalau sahabat dapat bacaan yang menyegarkan di sini. thanks juga :)

Blog Sejarah on March 31, 2009 5:30 AM said...

wah heroik banget ceritanya.... mmg periode 45-49 adlh masa2 prjuangan patriotik tokoh2 nasional kita, syg setelah masa ini byk yg dah milih jln sndiri2...

punkchonomic on April 2, 2009 5:21 PM said...

Apakah tulisan ini berdasarkan sebuah buku? sungguh senang rasanya kalau kita memiliki banyak buku anak-anak yang mengangkat mengenai kisah kepahlawanan dalam negeri.

Post a Comment

PIKIRAN SAHABAT SEMUA MUNGKIN AKAN SANGAT MEMBANTU SAYA
JADI JIKA BERKENAN, SUDILAH KIRANYA MENINGGALKAN KOMENTAR, DI KOTAK INI:

 
 

Artikel Pilihan

Widget edited by Sandiwara

Komentar Terbaru

Bertukar Link

Jika sahabat bersuka hati untuk bertukar link, silakan copy kode di bawah dan masukan di daftar link sahabat, tinggalkan jejak di buku tamu, agar dapat segera saya link-back. Sukses untuk semua!

Sandiwara Kita



Kalau maunya link aja, Silakan ke SINI
 

Sandiwara Kita Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez